Decision tree, adaptive naive bayes,logistic regression dan support vector machine.
Secara konsep Decision tree adalah
salah satu dari teknik decision analysis.Tries sendiri pertama kali
diperkenalkan pada tahun 1960-an oleh Fredkin. Trie atau digital tree
berasal dari kata retrival (pengambilan kembali) sesuai dengan
fungsinya. Secara etimologi kata ini diucapkan sebagai ‘tree’. Meskipun
mirip dengan penggunaan kata ‘try’ tetapi hal ini bertujuan untuk
membedakannya dari general tree. Dalam ilmu komputer, trie, atau prefix
tree adalah sebuah struktur data dengan representasi ordered tree yang
digunakan untuk menyimpan associative array yang berupa string. Berbeda
dengan binary search tree (BST) yang tidak ada node di tree yang
menyimpan elemen yang berhubungan dengan node sebelumnya dan, posisi
setiap elemen di tree sangat menentukan. Semua keturunan dari suatu node
mempunyai prefix string yang mengandung elemen dari node itu, dengan
root merupakan string kosong. Values biasanya tidak terkandung di setiap
node, hanya di daun dan beberapa node di tengah yang cocok dengan
elemen tertentu.
Secara singkat bahwa Decision Tree merupakan salah satu metode
klasifikasi pada Text Mining. Klasifikasi adalah proses menemukan
kumpulan pola atau fungsi-fungsi yang mendeskripsikan dan memisahkan
kelas data satu dengan lainnya, untuk dapat digunakan untuk memprediksi
data yang belum memiliki kelas data tertentu (Jianwei Han, 2001).
Decision Tree adalah sebuah struktur pohon, dimana setiap node pohon merepresentasikan atribut yang telah diuji, setiap cabang merupakan suatu pembagian hasil uji, dan node daun (leaf) merepresentasikan kelompok kelas tertentu. Level node teratas dari sebuah Decision Tree adalah node akar (root) yang biasanya berupa atribut yang paling memiliki pengaruh terbesar pada suatu kelas tertentu. Pada umumnya Decision Tree melakukan strategi pencarian secara top-down untuk solusinya. Pada proses mengklasifikasi data yang tidak diketahui, nilai atribut akan diuji dengan cara melacak jalur dari node akar (root) sampai node akhir (daun) dan kemudian akan diprediksi kelas yang dimiliki oleh suatu data baru tertentu.
Decision Tree adalah sebuah struktur pohon, dimana setiap node pohon merepresentasikan atribut yang telah diuji, setiap cabang merupakan suatu pembagian hasil uji, dan node daun (leaf) merepresentasikan kelompok kelas tertentu. Level node teratas dari sebuah Decision Tree adalah node akar (root) yang biasanya berupa atribut yang paling memiliki pengaruh terbesar pada suatu kelas tertentu. Pada umumnya Decision Tree melakukan strategi pencarian secara top-down untuk solusinya. Pada proses mengklasifikasi data yang tidak diketahui, nilai atribut akan diuji dengan cara melacak jalur dari node akar (root) sampai node akhir (daun) dan kemudian akan diprediksi kelas yang dimiliki oleh suatu data baru tertentu.
Decision Tree menggunakan algoritma ID3 atau C4.5, yang diperkenalkan dan dikembangkan pertama kali oleh Quinlan yang merupakan singkatan dari Iterative Dichotomiser 3 atau Induction of Decision “3″ (baca: Tree).
Algoritma ID3 membentuk pohon keputusan dengan metode divide-and-conquer data secara rekursif dari atas ke bawah. Strategi pembentukan Decision Tree dengan algoritma ID3 adalah:
- Pohon dimulai sebagai node tunggal (akar/root) yang merepresentasikan semua data..
- Sesudah node root dibentuk, maka data pada node akar akan diukur dengan information gain untuk dipilih atribut mana yang akan dijadikan atribut pembaginya.
- Sebuah cabang dibentuk dari atribut yang dipilih menjadi pembagi dan data akan didistribusikan ke dalam cabang masing-masing.
- Algoritma ini akan terus menggunakan proses yang sama atau bersifat rekursif untuk dapat membentuk sebuah Decision Tree. Ketika sebuah atribut telah dipilih menjadi node pembagi atau cabang, maka atribut tersebut tidak diikutkan lagi dalam penghitungan nilai information gain.
- Proses pembagian rekursif akan berhenti jika salah satu dari kondisi dibawah ini terpenuhi:
- Semua data dari anak cabang telah termasuk dalam kelas yang sama.
- Semua atribut telah dipakai, tetapi masih tersisa data dalam kelas yang berbeda. Dalam kasus ini, diambil data yang mewakili kelas yang terbanyak untuk menjadi label kelas pada node daun.
- Tidak terdapat data pada anak cabang yang baru. Dalam kasus ini, node daun akan dipilih pada cabang sebelumnya dan diambil data yang mewakili kelas terbanyak untuk dijadikan label kelas.
Beberapa contoh pemakaian Decision Tree,yaitu :
- Diagnosa penyakit tertentu, seperti hipertensi, kanker, stroke dan lain-lain
- Pemilihan produk seperti rumah, kendaraan, komputerdanlain-lain
- Pemilihan pegawai teladan sesuai dengan kriteria tertentu
- Deteksi gangguan pada computer atau jaringan computer seperti Deteksi Entrusi, deteksi virus (Trojan dan varians),dan lain-lain
Pada
project ini,Kami mencoba mengakali konsep decision tree dengan
cara,mengubah implementasinya pada penjumlahan nilai dari tiap
kepribadian.
Kunci
dari program kami terletak pada pertanyaan utama.Jadi gini,4
kepribadian itu dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu : Ekstrovert : sanguinis dan Koleris
Introvert : Melankolis dan Plegmatis
Introvert : Melankolis dan Plegmatis
Nilai Ekstrovert : sanguinis + Koleris
Nilia Introvert : Melankolis + Plegmatis
Pertanyaan pertama pada aplikasi kami adalah mengkondisikan apakah jumlah nilai ekstrovert >= introvert. Apabila benar maka,tinggal membandingkan nilai sanguinis dan koleris,en klo jawabannya salah,maka program akan membandingkan nilai melankolis dan plegmatis.
Hasilnya adalah nilai kepribadian yang paling besar.
Setiap Nilai yang didapat akan disimpan kedalam temp,dan akan dimunculkan dalam bentuk grafik di program.
Adaptive Naive Bayes merupakan algoritma pembelajaran untuk klasifikasi dengan
efisiensi komputasi dan akurasi yang baik, khususnya untuk dimensi dan
jumlah data yang besar. Akan tetapi performa algoritma ini akan menurun
ketika antar atribut tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Beberapa
solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini yaitu dengan structure
extension, pemilihan atribut, pembobotan pada masing-masing atribut,
instance weighting, pembelajaran lokal, dan sebagainya. Dalam paper
tersebut, penulis membahas teknik pembobotan (Weighting) atribut pada
klasifikasi Naive Bayes (NB) dengan menggunakan Artificial Immune System
(AIS), disingkat AISWNB.
Metode ini digunakan untuk menghitung bobot optimal antar atribut, yaitu
penentuan bobot secara mandiri dalam menentukan independensi atribut
sehingga probabilitas masing-masing atribut bisa ditentukan dengan lebih
akurat. Keunggulan dari metode ini yaitu mampu menyesuaikan bobot
berdasarkan atribut secara mandiri karena metode ini mengadopsi cara
kerja sistem imun, yaitu melalui proses penggandaan diri, pembelahan,
mutasi, dan memory. Metode ini mampu memilih bobot yang baik selama
proses pembelajaran sehingga performa Naive Bayes dapat ditingkatkan.
Penelitian dilakukan dengan membandingkan 36 jenis data pembelajaran
dalam mengklasifikasikan 6 kelompok gambar. Hasil penelitian ini yaitu
performa, akurasi, dan estimasi probabilitas Naive Bayes lebih bagus
daripada metode-metode lainnya.
Konsep Regresi Logistik
Regresi logistik merupakan alternative uji jika asumsi multivariate normal distribution pada variabel bebasnya tidak bisa terpenuhi ketika akan dilakukan analisis diskriminan. Tidak terpenuhinya asumsi ini dikarenakan variabel bebas merupakan campuran antara variabel kontinyu (metric) dan kategorial (non metric). Misalnya, probabilitas bahwa orang yang menderita serangan jantung pada waktu tertentu dapat diprediksi dari informasi usia, kebiasaan merokok, jenis kelamin, dan lainnya.
Asumsi Regresi Logistik
Regresi logistik merupakan alternative uji jika asumsi multivariate normal distribution pada variabel bebasnya tidak bisa terpenuhi ketika akan dilakukan analisis diskriminan. Tidak terpenuhinya asumsi ini dikarenakan variabel bebas merupakan campuran antara variabel kontinyu (metric) dan kategorial (non metric). Misalnya, probabilitas bahwa orang yang menderita serangan jantung pada waktu tertentu dapat diprediksi dari informasi usia, kebiasaan merokok, jenis kelamin, dan lainnya.
Asumsi Regresi Logistik
- Regresi logistik tidak membutuhkan hubungan linier antara variabel bebas dengan variabel terikat.
- Regresi logistik dapat menyeleksi hubungan karena menggunakan pendekatan non linier log transformasi untuk memprediksi odds ratio. Odd dalam regresi logistik sering dinyatakan sebagai probabilitas. Misal Odd sebuah perusahaan dapat bangkrut atau berhasil atau odd seorang anak dapat lulus atau tidak pada Ujian Nasional.
- Variabel bebas tidak memerlukan asumsi multivariate normality
- Asumsi homokedastis tidak diperlukan
- Variabel bebas tidak perlu dirubah ke bentuk metric (interval atau skala ratio)
Menurut
Santoso (2007) Support vector machine (SVM) adalah suatu teknik untuk
melakukan prediksi, baik dalam kasus klasifikasi maupun regresi. SVM
berada dalam satu kelas dengan Artificial Neural Network (ANN) dalam hal
fungsi dan kondisi permasalahan yang bisa diselesaikan. Keduanya masuk
dalam kelas supervised learning.
Dalam penelitian ini, teknik SVM digunakan untuk menemukan fungsi pemisah(klasifier)
yang optimal yang bisa memisahkan dua set data dari dua kelas yang
berbeda. Penggunaan teknik machine learning tersebut, karena
performansinya yang meyakinkan dalam memprediksi kelas suatu data baru.
Teori
SVM dimulai dengan kasus klasifikasi yang secara linier bisa
dipisahkan. Dalam hal ini fungsi pemisah yang dicari adalah fungsi
linier. Fungsi ini bisa didefinisikan sebagai;
g(x) := sgn(f(x)) (2.1)
dengan (2,2)
atau (2.3)
dimana x, w ∈and b ∈
Masalah klasifikasi ini bisa dirumuskan set parameter (w, b) sehingga f(xi) =< w, x > +b = yi
untuk semua i. Teknik SVM berusaha menemukan fungsi pemisah (klasifier/hyperplane) terbaik diantara fungsi yang tidak terbatas jumlahnya untuk memisahkan dua macam obyek. Hyperplane terbaik adalah hyperplane yang terletak di tengah-tengah antara dua set obyek dari dua kelas. Mencari hyperplane terbaik ekuivalen dengan memaksimalkan margin atau jarak antara dua set obyek dari kelas yang berbeda. Jika adalah hyperplane-pendukung (supporting hyperplane) dari kelas dan hyperplane-pendukung dari kelas margin antara dua kelas dapat dihitung dengan mencari jarak antara kedua hyperplane-pendukung dari kedua kelas.
Mata Kuliah : Konsep Data Mining
Nama : Kevin Mantika Putra
NPM : 1B117044
Prosiding Seminar Ilmiah Nasional Teknologi Komputer (SENATKOM 2015) Vol. 1, Oktober 2015
Nama : Kevin Mantika Putra
NPM : 1B117044
Prosiding Seminar Ilmiah Nasional Teknologi Komputer (SENATKOM 2015) Vol. 1, Oktober 2015
Universitas Putra Indonesia YPTK Padang - 23 Oktober 2015 ISSN : 2460 – 4690
PENERAPAN DATA MINING DENGAN METODE CLUSTERING UNTUK PENGELOMPOKAN DATA PENGIRIMAN BURUNG
Sri Mulyati
Pascasarjana, Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang
e-mail: mulyati.sri52@gmail.com
Abstrak
Banyaknya data pengiriman burung pada Kantor Balai Karantina Pertanian Kelas I Jambi terjadi setiap tahunnya. Sehingga terjadi penumpukan data dan dapat diibaratkan seperti gunung data. Berlimpahnya data tersebut dapat kita manfaatkan untuk mencari informasi yang tersembunyi dari data-data tersebut. Untuk dapat mengetahui informasi yang tersembunyi dari data-data tersebut, maka perlu dilakukan pengolahan terhadap data-data tersebut. Proses pengolahan data tersebut disebut juga
dengan Data Mining. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengelompokan terhadap data pengiriman burung menggunakan teknik Clustering. Metode yang digunakan adalah K-Means Clustering. Dengan menggunakan metode ini data-data yang telah didapatkan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa cluster, berdasarkan kemiripan dari data-data tersebut, sehingga data-data yang memiliki karakteristik yang sama dikelompokkan dalam satu cluster dan yang memiliki karakteristik yang berbeda dikelompokkan dalam cluster yang lain. Sehingga dengan adanya pengelompokan ini akan diketahui jenis burung apa saja yang sering dikirim oleh masyarakat sehingga dapat diketahui daerah persebaran burung tersebut. Hasil penelitian didapatkan bahwa penyebaran burung banyak berasal dari daerah Jambi dengan tujuan daerah di pulau Jawa. Selain Jambi sebagai daerah asal penyebaran burung Jambi juga sebagai transit penyebaran burung yang akan dikirim ke pulau Jawa. Sehingga apabila terdapat kasus berjangkitnya wabah penyakit Flu Burung (Avian Influenza) dapat segera dilakukan tindakan antisipasi salah satunya dengan melakukan metode penyuluhan pencegahan dan penanggulangan flu burung pada daerah asal pengiriman burung dan daerah tujuan pengiriman burung tersebut.
Kata Kunci : Data Mining, Clustering, K Means, Pengelompokan Burung, Balai Karantina Pertanian Kelas I Jambi
Kata Kunci : Data Mining, Clustering, K Means, Pengelompokan Burung, Balai Karantina Pertanian Kelas I Jambi
1. PENDAHULUAN
Saat ini banyak masyarakat menggemari hobby memelihara berbagai macam jenis burung berkicau seperti burung Murai Batu, Kacer, Cucak Hijau dan lain-lain. Selain suaranya yang merdu dan enak didengar , keindahan tubuhnya juga tak kalah menariknya. Dari segi nilai ekonomis, harga jual burung ini pun cukup tinggi di pasaran. Hal ini terlihat dari banyaknya data pengiriman burung pada Kantor Balai Karantina Pertanian Kelas I Jambi setiap tahunnya. Data tersebut meliputi data masuk dan keluarnya berbagai macam jenis burung.
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengelompokan terhadap data pengiriman burung menggunakan teknik Clustering. Metode yang digunakan adalah K-Means Clustering. Dengan menggunakan metode ini data-data yang telah didapatkan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa cluster, berdasarkan kemiripan dari data-data tersebut, sehingga data-data yang memiliki karakteristik yang sama dikelompokkan dalam satu cluster dan yang memiliki karakteristik yang berbeda dikelompokkan dalam cluster yang lain. Sehingga dengan adanya pengelompokan ini akan diketahui jenis burung apa saja yang sering dikirim oleh masyarakat sehingga dapat diketahui daerah persebaran burung tersebut. Sehingga apabila terdapat kasus berjangkitnya wabah penyakit Flu Burung (Avian Influenza) dapat segera dilakukan tindakan antisipasi pada daerah asal pengiriman burung dan daerah tujuan pengiriman burung tersebut.
Saat ini banyak masyarakat menggemari hobby memelihara berbagai macam jenis burung berkicau seperti burung Murai Batu, Kacer, Cucak Hijau dan lain-lain. Selain suaranya yang merdu dan enak didengar , keindahan tubuhnya juga tak kalah menariknya. Dari segi nilai ekonomis, harga jual burung ini pun cukup tinggi di pasaran. Hal ini terlihat dari banyaknya data pengiriman burung pada Kantor Balai Karantina Pertanian Kelas I Jambi setiap tahunnya. Data tersebut meliputi data masuk dan keluarnya berbagai macam jenis burung.
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengelompokan terhadap data pengiriman burung menggunakan teknik Clustering. Metode yang digunakan adalah K-Means Clustering. Dengan menggunakan metode ini data-data yang telah didapatkan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa cluster, berdasarkan kemiripan dari data-data tersebut, sehingga data-data yang memiliki karakteristik yang sama dikelompokkan dalam satu cluster dan yang memiliki karakteristik yang berbeda dikelompokkan dalam cluster yang lain. Sehingga dengan adanya pengelompokan ini akan diketahui jenis burung apa saja yang sering dikirim oleh masyarakat sehingga dapat diketahui daerah persebaran burung tersebut. Sehingga apabila terdapat kasus berjangkitnya wabah penyakit Flu Burung (Avian Influenza) dapat segera dilakukan tindakan antisipasi pada daerah asal pengiriman burung dan daerah tujuan pengiriman burung tersebut.
Analisa cluster merupakan teknik multivariat yang mempunyai tujuan utama untuk mengelompokan objek-objek berdasarkan karakteristik yang dimilikinya. Analisis cluster mengklasifikasikan objek sehingga setiap objek yang paling dekat kesamaannya dengan objek lain berada dalam cluster yang sama (Ediyanto et al, 2013).
2. KAJIAN LITERATUR
Data Mining merupakan ekstraksi informasi yang tersembunyi dari database yang besar. Data Mining adalah teknologi baru yang kuat dengan potensi besar untuk membantu perusahaan agar fokus pada informasi yang paling penting dalam gudang data mereka (Ramamohan et al, 2012).
Menurut Eko Prasetyo (2012), pekerjaan yang berkenaan dengan Data Mining dapat dibagi menjadi empat
kelompok, yaitu model prediksi (prediction modelling), analisis kelompok (Cluster analysis), analisis asosiasi (association analysis) dan deteksi anomali (anomaly detection).
Analisa cluster merupakan teknik multivariat yang mempunyai tujuan utama untuk mengelompokan objek-objek berdasarkan karakteristik yang
dimilikinya. Analisis cluster mengklasifikasikan objek sehingga setiap objek yang paling dekat kesamaannya dengan objek lain berada dalam cluster yang sama (Ediyanto et al, 2013).
3. METODE PENELITIAN
Kerangka kerja dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1 berikut ini :
Kerangka kerja dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1 berikut ini :
Langkah-langkah penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut :
- Mengumpulkan Data
- Metode wawancara,
penulis melakukan tanya jawab langsung dengan staf kantor
Balai Karantina Pertanian Kelas I Jambi mengenai data pengiriman burung yang meliputi data jenis burung,
data pengirim, dan data penerima.
- Metodeobservasi,penulis melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian yaitu pada kantor Balai Karantina Pertanian Kelas I Jambi.
Penulis melakukan pengumpulan pengetahuan dari
berbagai macam sumber literatur berupa buku-buku, jurnal dan karya ilmiah yang
berkaitan dengan topik yang penulis angkat.
3.
Menganalisa Data.
Pada tahap ini penulis melakukan analisa data
menggunakan tahapan KDD (Knowledge Discovery in Database). Di mana
tahapan KDD ini meliputi : Seleksi
Data, Preprocessing dan Pembersihan Data, Transformasi Data, Data Mining,
Evaluasi/Interpretation.
4.
Menyeleksi Data (Data Selection) Pada proses ini
dilakukan pemilihan
himpunandata,menciptakan himpunan data target, atau memfokuskan pada subset variabel (sampel data) di mana penemuan (Discovery) akan dilakukan. Hasil seleksi
disimpan dalam suatu berkas yang terpisah dari basis data operasional Preprocessing.
5.
Melakukan Preprocessing dan Pembersihan Data (Cleaning Data) Pre
processing dan Cleaning Data dilakukan
dengan membuang data yang tidak konsisten dan noise,
duplikasi data, memperbaiki kesalahan data dan bisa diperkaya dengan
data eksternal yang relevan.
6.
Metransformasi Data (Data Transformation)
Proses ini mentransformasikan atau menggabungkan
data ke dalam yang lebih tepat untuk melakukan proses Mining dengan cara melakukan peringkasan
(Agregasi).
7.
Merancang Struktur K Means Clustering
Proses Data
Mining yaitu proses mencari pola atau informasi menarik
dalam data terpilih dengan menggunakan teknik, metode atau algoritma
tertentu sesuai dengan tujuan dari proses KDD secara
keseluruhan. Algoritma yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan K Means Clustering.
8.
Mengevaluasi Data (Evaluation Data)
Tahap selanjutnya yaitu mengevaluasi data. Tahap
ini digunakan untuk menguji kualitas dari data apakah
pola atau informasi yang ditemukan bersesuaian atau
bertentangan dengan fakta sebelumnya.
9. Menguji
Hasil
Tahap pengujian hasil adalah suatu teknik yang
digunakan untuk
menentukan bahwa penerapan metode yang digunakan
telah mampu
memecahkan masalah. Pada penelitian ini dilakukan
pengujian dengan menggunakan aplikasi Data
Mining RapidMiner versi 5.3.
Berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari
pola-pola yang terbentuk, maka pola yang terbentuk tersebut dapat
dipresentasikan ke dalam bentuk visualisasi.
10. Menarik
Kesimpulan
Setelah melakukan analisa data menggunakan tahapan
KDD maka dapat ditarik suatu kesimpulan apakah informasi yang ditemukan
berkesesuaian dengan fakta sebelumnya atau tidak,
sehingga akan diperoleh pengetahuan baru.
11. Menerapkan
Pengetahuan.
Langkahselanjutnyayaitu
menerapkan pengetahuan yang diperoleh, sehingga
diharapkan dapat
membantu pimpinan organisasi/perusahaan dalam
proses pembuatan keputusan yang akan datang.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel
4.1 berikut ini :
Tabel 4.1
Hasil Cluster Satu
Dari hasil pengelompokan cluster
satu di atas, dapat dianalisa bahwa penyebaran burung paling banyak di pulau
Jawa, khususnya pada provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur, sehingga apabila
terjadi wabah flu burung dapat dilakukan antisipasi di kedua daerah tersebut.
Tabel 4.2 Hasil Cluster Dua
Berdasarkan data hasil pengelompokan cluster dua, dapat dianalisa bahwa
daerah asal penyebaran burung selain dari Jambi juga berasal dari provinsi di
luar Jambi dengan tujuan paling banyak di provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah dan
provinsi Jambi sendiri. Di sini provinsi Jambi berfungsi sebagai daerah transit
pengiriman burung. Untuk itu, apabila terjadi wabah flu burung dapat dilakukan
antisipasi di daerah Jambi dan daerah tujuan terutama daerah DKI Jakarta dan
Jawa Tengah.
Tabel 4.3 Hasil Cluster
Tiga
Berdasarkan data hasil
pengelompokan cluster tiga, dapat
dianalisa bahwa daerah asal penyebaran burung selain dari Jambi juga berasal
dari provinsi di luar kota Jambi. Disini provinsi Jambi juga berfungsi sebagai
daerah transit pengiriman burung yang nantinya akan dikirimkan ke daerah tujuan
di provinsi-provinsi lain yang kebanyakan berada di pulau Jawa. Untuk itu
apabila terjadi wabah flu burung dapat diantisipasi di daerah Jambi dan daerah lain di
pulau Jawa seperti daerah DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Berdasarkan data hasil dari clustering di atas, maka dapat dilakukan metode penyuluhan pencegahan flu burung
yang dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini :
Tabel 4.4 Metode Penyuluhan
Pencegahan Flu Burung
5. KESIMPULAN
Dari hasil analisa pengelompokan data penyebaran
burung menggunakan K Means Clustering maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Terbentuk tiga cluster daerah
penyebaran burung yaitu cluster satu
dengan jumlah 345 item di mana
penyebaran burung berasal dari daerah Jambi dengan tujuan daerah Jawa Barat dan
Jawa Timur, cluster dua dengan jumlah
703 item di mana selain daerah asal
penyebaran burung Jambi juga merupakan daerah transit pengiriman burung ke
daerah lain seperti daerah DKI Jakarta dan Jawa Tengah dan cluster tiga dengan jumlah 257 item
di mana penyebaran burung berasal dari daerah Jambi dan Jambi juga merupakan
daerah transit pengiriman burung dengan daerah tujuan pengiriman
DKI Jakarta, Jawa
Tengah dan Jawa Timur.
2.
Metode penyuluhan pencegahan flu
burung dapat dilaksanakan dengan baik berdasarkan cluster yang terbentuk, sehingga masyarakat dapat terhindar dari
penyakit flu burung dan dapat mengantisipasinya dengan baik.
6. REFERENSI
6. REFERENSI
Amita Verma and Ashwani Kumar, (2014),” Performance Enhancement of K Means Clustering Algorithms for High Dimensional Data Sets”, International Journal of Advanced Research in Computer Science and Software Engineering, Vol.4, Issue 1, January 2014
Ediyanto et al, (2013). “Pengklasifikasian Karakteristik Dengan Metode K Means Cluster Analysis”, Buletin Ilmiah Mat. Stat. Terapannya (Bimaster), Volume 02, No.2, (2013)




